Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Cermati Hilangnya Antibiotik Penisilin

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah harus menyelamatkan antibiotik turunan penisilin yang menghilang sejak 3-4 tahun terakhir karena digantikan antibiotik jenis sefalosporin yang berlipat-lipat lebih mahal. "Hilangnya penisilin di dunia membuat harga obat-obatan antibiotik menjadi mahal," kata Ketua Jurusan Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran UGM Prof dr Iwan Dwiprahasto pada diskusi "Sinergi Unsur Akademisi, Bisnis, dan Pemerintah untuk Membangun Industri Bahan Baku Obat Antibiotik Turunan Beta Laktam" di Jakarta, Kamis. Menurut Iwan, hilangnya penisilin karena zat itu dianggap tidak lagi memberi keuntungan bagi industri obat sehingga bahan bakunya sengaja tak diproduksi lagi. "Alasan bahwa penisilin sudah resisten itu tidak masuk akal. Resisten itu hanya untuk jangka pendek, bukan jangka panjang. Stigmatisasi terhadap penisilin itu disengaja," katanya. Dia menambahkan bahwa tidak ada bukti atau hasil survei resistensi penisilin di berbagai rumah sakit. Ia mencontohkan, suatu jenis obat antibiotik penisilin yang harganya hanya Rp18 ribu-Rp24 ribu per ampul menjadi sekitar Rp200 ribu per ampul setelah digantikan antibiotik sefalosporin. "Padahal kasiat kedua jenis antibiotik beta-laktam ini sama saja," katanya. Menurut dia, dalam perjalanannya ditemukan bahwa tingkat resistensi tinggi antibiotik sefalosporin terjadi di mana-mana akibat penggunaan yang luas dan intensif. "Namun resistensi antibiotik berubah-ubah. Bisa saat ini sudah resisten tapi enam bulan lagi kembali seperti semula," katanya. Menurut dia, obat-obatan yang bagus seperti penisilin harus diselamatkan dan didorong kembali untuk diproduksi. Ia meminta pemerintah memberi insentif kepada BUMN industri obat misalnya dengan menghapus berbagai pajak, dari mulai pajak bahan baku penisilin, produksi, distribusi hingga pajak penjualan penisilin di tingkat apotek. Sementara itu Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Dr Listyani Wijayanti menyesalkan bahwa 96 persen bahan baku obat-obatan di Indonesia masih diimpor. Industri obat di Indonesia, menurut dia, hanya terfokus pada kemasan dan promosi, padahal potensi biodiversitas Indonesia sangat tinggi, termasuk tumbuhan yang menjadi bahan baku penisilin. (*)

Sumber: Antara, Kamis, 11 November 2010

Anda Ingin Berpikir Kritis?

Jakarta (ANTARA News) - Ingin punya ketrampilan berpikir kritis di era lautan informasi? Berkonsentrasilah, karena dengan berkonsentrasi Anda memicu dan memacu ingatan akan segala peristiwa yang berkelabat atau fakta yang berkesinambungan. Tingkatkanlah ingatan anda dengan berkonsentrasi secara terus menerus. Berpikir kritis berarti mengajukan pertanyaan mengenai seberapa banyak hal yang Anda ketahui dan pahami. Jika Anda cenderung lupa nama seseorang, maka amati dan camkan nama seseorang ketika bertemu kali pertama. Cara mudahnya, ambil "sesuatu" yang mudah Anda ingat untuk mengingatkan orang itu. Misalnya, Barbara yang mengenakan rok merah, Paijo yang menggunakan sepeda lipat. Konsentrasi memungkinkan Anda "hadir" dalam informasi itu. Jika seseorang mengatakan bahwa dia kurang dapat berkonsentrasi, itu artinya ia kurang mencamkan informasi secara seksama. Dengan mengonsumsi informasi, Anda menyimpannya dalam ingatan dalam jangka waktu relatif lama. Buku berjudul "Memory Boosters" yang ditulis Dr Jo Iddon dan Dr Huw Williams menyatakan penyebab seseorang kurang dapat berkonsentrasi salah satunya karena ia kurang memberi perhatian pada kali pertama. Bukankah ada ungkapan populer, cinta pada pandangan pertama. Tidak jarang seseorang diliputi kesibukan luar biasa. Karena itu, disarankan agar berkonsentrasi kepada hal-hal prioritas saja. Kemampuan mengidentifikasi gagasan-gagasan penting dan mengenali segala rincian, dapat membawa Anda sampai kepada berpikir kritis.

Memotivasi diri terus menerus dapat menjadikan Anda relatif terampil membangkitkan konsentrasi. Berlatihlah untuk berkonsentrasi selama 20 menit, 50 menit, kemudian berilah porsi waktu lebih banyak dari hari ke hari. Diharapkan Anda terlatih dalam memproses informasi secara kritis. Apa yang harus ditempuh jika seseorang dihadapkan kepada banyak hal? Kenalilah bahwa Anda sedang berhadapan dengan gejala "perhatian terpecah". Bersegeralah memilah-milah perhatian agar Anda dapat menemukan hal-hal penting, dan menghalau hal-hal kurang penting. Berilah prioritas jika perhatian Anda terpecah. Fokus, fokus, dan fokus. Memang banyak orang mampu melakukan banyak pekerjaan. Namun, jauh lebih mudah jika Anda memilah dan menyelesaikan tugas yang relatif mudah. Bukankah ada ujaran, selesaikan dulu tugas yang mudah lebih dulu, sebelum beranjak ke tugas-tugas yang lebih sulit. Menurut Hiddon dan Williams, berpikir kritis berarti mengintegrasikan fakta dengan makna. Manusia dikenal sebagai ciptaan yang dapat merangkai dan memaknai segala peristiwa dengan menggunakan akal budinya. Memaknai peristiwa berarti menghubungkannya dengan hal-hal yang sudah akrab dalam hidup keseharian. Caranya? Pilahlah dalam kategori-kategori. Akan lebih mudah dilakukan jika Anda memahami dan mengintegrasikan informasi-informasi baru dengan berkonsentrasi tiada henti. (A024/BRT)

Sumber: Antara, Selasa, 2 November 2010

Kandungan Garam di Dalam Makanan Sudah Saatnya Diatur

Singapura (ANTARA News) - Pemerintah mesti memberlakukan pemantauan atas kandungan garam di dalam makanan guna memerangi penyakit jantung, dan bukan membiarkan produsen makanan mengatur sendiri tingkat kandungan garam itu, demikian hasil satu studi oleh beberapa peneliti di Australia. Mengonsumsi terlalu banyak garam meningkatkan tekanan darah dan membuat orang menghadapi risiko terserang stroke serta sakit jantung, penyakit kronis yang mengeringkan sumber daya kesehatan masyarakat. "Jika kita mengandalkan perusahaan untuk secara sukarela mengurangi kandungan garam, memang ada sedikit keuntungan, tapi manfaat dari pengurangan wajib akan 20 kali lebih besar," kata Linda Cobiac dari School of Population Health di University of Queensland di Australia. Di Australia, 94 persen lelaki dan 64 persen perempuan mengonsumsi lebih banyak garam dibandingkan yang disarankan, kata Cobiac. Studi itu juga menyatakan bahwa sembilan dari 10 orang Amerika juga mengkonsumsi terlalu banyak garam. "Ketika konsumsi garam terlalu banyak, masuk akal bagi pemerintah untuk melakukan tindakan," kata Cobiac. "Untuk jangka panjang pemerintah bisa menghemat biaya dengan mengurangi kandungan garam di dalam makanan." Studi tersebut, yang disiarkan Selasa (2/11) di Heart, yang diterbitkan oleh British Medical Journal, memperlihatkan ketika perusahaan makanan mengendalikan kandungan garam, angka sakit jantung dan stroke merosot sampai satu persen, tapi ketika pemerintah memberlakukan peraturan, angka itu turun sebanyak 18 persen. Mengandalkan orang untuk menerapkan disiplin diri adalah metode yang kurang efektif, untuk mengurangi sakit jantung dan stroke hanya sebanyak 0,5 persen yang melakukannya. (A011/A038)

Sumber: Antara, Rabu, 3 November 2010

Hidup Sehat Tekan Risiko Terkena Kanker

Jakarta (ANTARA News) - Membiasakan orang untuk mengkonsumsi makanan sehat, tidak merokok, mengurangi alkohol dan berolahraga lebih banyak dapat mencegah hampir seperempat dari 1,2 juta kasus kanker usus besar yang didiagnosis setiap tahun, demikian para ilmuwan seperti dikutip Reuters, Rabu. Para peneliti dari Denmark menyatakan bahwa beberapa rekomendasi mengenai aktivitas jasmani, bobot badan, merokok, konsumsi alkohol dan diet, dapat mengurangi risiko kanker usus sampai 23 persen. "Penelitian kami menguakkan kiat-kiat kesehatan yang berguna bagi masyarakat yang bahkan berbeda banyak dari gaya hidup bisa saja berdampak besar pada risiko kanker kolorektal," kata Anne Tjonneland dari Institute of Cancer Epidemiology pada Danish Cancer Society, yang juga mengepalai penelitian itu. Kanker kolorektal, sering dikaitkan dengan usus atau kanker usus besar, membunuh sekitar setengah juta orang setiap tahun di seluruh dunia. Xeloda buatan Roche dan Eloxatine produk Sanofi-Aventis adalah diantara obat -obat berlisensi terkemuka untuk pengobatan penyakit yang didiagnosis ada pada 1,23 juta orang pada 2008, demikian International Agency for Research on Cancer. Tjonneland dan koleganya mempelajari data pada 55.487 laki-laki dan wanita yang berumur antara 50 dan 64 yang sebelumnya tidak pernah didiagnosis terkena kanker. Mereka ini diamati selama hampir 10 tahun

Para responden mengisi kuesioner gaya hidup dan pola makan, sementara para peneliti membuat indeks gaya hidup sehat dengan menggunakan rekomendasi kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia, Dana Penelitian Kanker Dunia (WCRF) dan Nordic Nutrition Recommendations. Kuisoner itu termasuk tidak merokok, beraktivitas fisik setidaknya 30 menit sehari, tidak meminum alkohol lebih dari tujuh gelas dalam seminggu untuk wanita dan 14 kali dalam seminggu untuk laki-laki, memiliki ukuran pinggang di bawah 88 cm untuk wanita dan 102 cm untuk laki-laki, serta menjalani diet yang sehat. Hasilnya yang dipublikasikan dalam British Medical Journal menunjukkan bahwa selama periode berikutnya, 678 orang didiagnosis menderita kanker usus. Setelah menganalisa seberapa baik peserta menjaga sikap dalam lima tips gaya hidup, para peneliti menaksir bahwa apabila mereka semua mengikuti satu saja pedoman tambahan, maka 13 persen kasus kanker usus besar dapat dicegah. Jika mereka semua mengikuti semua lima tips kesehatan itu, maka 23 persen kasus kanker ususa bisa dihindari. Studi sebelumnya telah mengidentifikasi 14 variasi gen yang masing-masing menaikkan risiko mengembangnya kanker usus antara 1,5 dan 2 kali. Satu penelitian yang diterbitkan bulan lalu menemukan fakta bagaimana sebuah varian tunggal dalam kode genetik manusia dapat memicu penyakit itu. Namun para ahli mengatakan diet yang baik dan gaya hidup yang sehat memiliki kemungkinan untuk memainkan peran yang jauh lebih besar dalam menekan kemungkinan terkena kanker usus. Tjonneland menyimpulkan penelitian itu mempertegas orang untuk mengikuti kiat-kiat hidup yang direkomendasikan. (*)

Sumber: Antara, Rabu, 27 Oktober 2010

Waspadai Unsur Kimia Dalam Kamar Tidur

London (ANTARA News) - Para peneliti menemukan bahwa anak-anak memiliki risiko 180 persen lebih besar terkena alergi bila mereka terpapar kimia yang disebut "propylene glycol dan glycol ethers" (PGE) di kamar tidur mereka. Unsur-unsur kimia itu terdapat dalam cat dinding dan cairan pembersih. Penemuan itu berdasarkan penelitian para peneliti dari Karlstad University di Swedia, seperti dikutip Daily Mail. "Penelitian menunjukkan untuk pertama kali bahwa konsentrasi PGE, "propylene glycol" dan "glycol ether," dalam udara kamar tidur terkait dengan peningkatan risiko terkena asma, rinitis dan eksim pada anak-anak," kata profesor Carl-Gustaf Bornehag. "Peningkatan risiko bervariasi antara 50 dan 180 persen. Juga ditemukan bahwa konsentrasi lebih tinggi PGE dalam udara di dalam ruangan terhubung dengan antibodi (Immunoglobulin E atau IgE) anak-anak terhadap alergen seperti kucing, anjing dan serbuk sari. Analisis kami juga mengungkapkan bahwa penggunaan cat berbasis air dalam rumah, sebagaimana pembersih berbasis air, terhubung dengan konsentrasi PGE yang lebih tinggi dalam udara kamar tidur." Unsur-unsur kimia juga bisa ditemukan dalam beberapa mainan plastik dan kemasan. Para peneliti mempelajari 198 anak prasekolah yang menderita asma dan alergi bersama 202 anak sehat di Varmland, Swedia. Sampel udara diambil dari kamar tidur anak-anak dan delapan kelompok unsur yang mudah menguap dianalisis. Anak-anak kemudian diperiksa oleh dokter saat orang tua mereka mengisi kuesioner mengenai kesehatan dan gaya hidup keluarga. "Kami sebelumnya sudah menunjukkan bahwa ftalat dari PVD (Polyvinylidene chloride) ringan bisa berhubungan dengan kondisi alergi pada anak-anak. Saat ini kami fokus pada PGE. Diantara Unsur-unsur yang diidentifikasi adalah unsur-unsur yang diduga mengganggu hormon, yang juga kasus mengenai ftalat yang kita pelajari sebelumnya," kata profesor Bornehag. Para ilmuwan mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meneliti bagaimana paparan kimia pada anak-anak bisa berkontribusi pada kondisi kronis. "Penemuan kami sekali lagi meningkatkan pertanyaan pada aspek yang terkait dengan kesehatan dari penggunaan kimia dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya saat paparan dalam linkungan rumah, sejak anak-anak kecil dan perempuan hamil menghabiskan waktu mereka di sana dan ada banyak petunjuk bahwa mengekspos janin dan bayi kemungkinan lebih berisiko," kata profesor Bornehag. (ENY/A024)

Sumber: Antara, Jumat, 22 Oktober 2010

Kedelai Kurangi Risiko Kambuhnya Kanker Payudara

Jakarta (ANTARA News) - Bagi orang Indonesia, tempe dan tahu merupakan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Jenis makanan yang berbahan dasar kedelai itu tak hanya lezat tetapi juga bermanfaat. Menurut penelitian pola makan yang tinggi senyawa kedelai tertentu bisa mengurangi risiko kambuhnya kanker payudara di antara mantan penderita beberapa jenis kanker payudara. Senyawa itu disebut isoflavon. Penelitian dilakukan oleh peneliti dari Harbin Medical University di China. Hasil penelitian itu dipublikasikan di "Canadian Medical Association Journal" secara online, seperti dikutip dari LiveScience. Para peneliti menemukan mantan penderita kanker payudara pasca menopause dalam penelitian yang mengonsumsi isoflavon terbanyak risiko kambuhnya menurun dibanding mereka yang mengonsumsi sedikit. Perbandingan konsumsi mereka 42.3 miligram dan 15.2 miligram per hari. Kaitan antara senyawa kedelai dan risiko kanker payudara belum dipahami secara penuh. Penelitian sudah menunjukkan senyawa tanaman itu bisa mempengaruhi tingkat estrogen dalam tubuh. Tetapi, penelitian lain memberi hasil yang bertentangan. Beberapa penelitian tampak menunjukkan pengaruh protektif melawan kanker payudara. Sementara, penelitian lain menemukan senyawa bisa meningkatkan risiko penyakit itu pada perempuan. Penelitian baru dimulai tahun 2002. Para peneliti melibatkan 524 pasien berusia 29 hingga 72 tahun. Mereka sudah didiagnosis gejala awal atau kanker payudara lanjutan dan menjalani terapi hormon setelah operasi.

Semua perempuan menderita kanker payudara yang positif untuk reseptor estrogen (artinya tumor mereka tumbuh dalam merespon pada estrogen), reseptor progesteron (sel-sel kanker memperoleh makan dari progesteron) atau keduanya. Para pasien diobati dengan tamoksifen dan anastrosol. Keduanya obat yang dirancang untuk memperlambat pertumbuhan tumor dengan mempengaruhi tingkat estrogen tubuh. Mereka juga diminta menjawab kuesioner yang memasukkan pertanyaan mengenai konsumsi produk kedelai mereka. Produk itu termasuk tahu, susu kedelai, kecambah kedelai dan bubuk kedelai. Para peneliti menemukan tingkat kambuhnya 12.9 persen lebih rendah di antara pasien yang mengonsumsi isoflavon tertinggi daripada mereka yang konsumsinya rendah. Di antara perempuan pasca menopause yang mengonsumsi anastrosol, efeknya paling jelas. Tingkat kambuhnya 18.7 persen lebih rendah pada perempuan yang paling banyak mengonsumsi kedelai dibanding mereka yang mengonsumsi sedikit. Dibandingkan dengan populasi Asia, di mana protein kedelai menjadi makanan pokok, hanya 37 persen orang Amerika mengonsumsi makanan dan minuman berbahan baku kedelai setidaknya sebulan sekali atau lebih. Data itu berdasarkan Perilaku Konsumen mengenai nutrisi yang dilaporkan oleh United Soybean Board. Berdasarkan National Cancer Institute, lebih dari 12 persen perempuan yang lahir saat ini akan didiagnosis menderita kanker payudara pada satu titik dalam hidup mereka. Penelitian sebelumnya memeriksa pengaruh asupan isoflavon pada penderita kanker payudara. Para peneliti mengatakan sedikit yang mengetahui efek pada mereka yang menjalani terapi berbasis hormon. Meskipun beberapa penemuan sudah menemukan manfaat kedelai bagi manusia. Beberapa penelitian menunjukkan satu isoflavon yang disebut genistein, bisa menghalangi efek tamoksifen dan mendorong pertumbuhan sel reseptor estrogen positif pada tikus. (ENY/A024)

Sumber: Antara, Rabu, 20 Oktober 2010

Kanker Karena Pola Hidup Manusia

Jakarta (ANTARA News) - Kanker adalah penyakit buatan manusia yang disebabkan oleh faktor-faktor kehidupan modern, sebuah studi kuno telah menemukan. Tumor jarang ditemukan sampai belakangan ini ketika polusi dan diet menjadi isu, pengkajian itu berdasarkan mumi, fosil, dan sastra klasik. Sebuah pemahaman mendalam tentang asal-usulnya dapat mengobati penyakit, yang mengklaim lebih dari 150 ribu jiwa hidup di Inggris. Michael Zimmerman, seorang profesor tamu di Universitas Manchester mengatakan: "Dalam sebuah masyarakat kuno minimnya intervensi bedah, bukti dari kanker harus tetap dalam semua kasus. 'Tidak adanya bukti nyata keganasan di mumi ditafsirkan sebagai keanehan mereka pada zaman kuno, itu menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab kanker terbatas pada masyarakat yang dipengaruhi oleh industrialisasi modern." Untuk menelusuri akar kanker, Profesor Zimmerman dan rekannya Rosalie David menganalisa referensi yang mungkin menyebabkan penyakit ini dalam sastra klasik dan meneliti tanda-tanda dalam catatan fosil dan dalam tubuh mumi. Meskipun irisan jaringan dari ratusan mumi Mesir yang diawetkan dan ditempatkan di bawah mikroskop, hanya satu kasus kanker telah dikonfirmasi. Meskipun percobaan menunjukkan bahwa tumor lebih baik diawetkan dengan mumifikasi dari jaringan sehat. Menolak argumen bahwa orang Mesir kuno tidak hidup cukup lama untuk mengembangkan kanker, para peneliti menunjukkan bahwa penyakit usia-terkait lainnya seperti pengerasan arteri dan tulang rapuh terjadi. Bukti fosil kanker juga jarang, dengan penjelasan lusinan literatur ilmiah, sebagian besar dipersengketakan, seperti contoh fosil hewan, laporan jurnal Nature Reviews Cancer. Bahkan ribuan kajian tulang Neanderthal menyediakan satu contoh dari kemungkinan kanker. Bukti kanker pada teks Mesir kuno juga 'lemah' dengan masalah kanker yang lebih mungkin disebabkan oleh varises kusta atau bahkan. Orang-orang Yunani kuno mungkin yang pertama mendefinisikan kanker sebagai penyakit tertentu dan membedakan antara tumor jinak dan ganas.

Namun profesor Manchester mengatakan belum jelas jika hal ini menandai peningkatan nyata penyakit ini, atau hanya sekedar pengetahuan medis yang lebih besar saja. Abad ke-17 memberikan deskripsi pertama operasi payudara dan kanker lainnya. Laporan pertama dalam literatur ilmiah tentang tumor khas terjadi dalam 200 tahun terakhir atau lebih, termasuk kanker skrotum ketika menyapu cerobong asap pada 1775 dan kanker hidung pada pengguna tembakau tahun 1761. Profesor David, yang mempresentasikan penemuan Profesor Mike Richards, master kanker Inggris dan ahli kanker lainnya di konferensi sebelumnya tahun ini, mengatakan: "Dalam masyarakat industri, kanker adalah penyakit kedua setelah penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian. Namun pada zaman kuno, sangat jarang terjadi. 'Tidak ada dalam lingkungan alam yang menyebabkan kanker. Jadi penyakit itu buatan manusia, terlihat dari polusi dan perubahan pola makan dan gaya hidup kita. "Hal terpenting tentang studi kami adalah bahwa hal itu memberi perspektif historis untuk penyakit ini. Kita bisa membuat pernyataan yang jelas pada tingkat kanker di masyarakat karena kita memiliki gambaran yang jelas. Kita telah melihat ribuan tahun, bukan seratus tahun, dan memiliki data publik. 'Namun sekali lagi data ekstesif Mesir kuno, bersamaan dengan data ribuan tahun lalu, masyarakat modern telah memberikan pesan yang jelas - kanker adalah buatan manusia dan sesuatu yang kita dapat dan harus diatasi. Dr Rachel Thompson, dari World Cancer Research Fund, mengatakan: "Penelitian ini adalah bacaan yang sangat menarik. 'Sekitar satu dari tiga orang di Inggris akan mendapatkan kanker sehingga cukup biasa di dunia modern. Para ilmuwan sekarang mengatakan diet sehat, aktivitas fisik secara teratur dan menjaga berat badan yang sehat dapat mencegah sekitar sepertiga dari kanker seperti yang terjadi dengan nenek moyang kita 'gaya hidup mengurangi resiko dari kanker', demikian Daily Mail.

Sumber: Antara, Selasa, 19 Oktober 2010

Riset: Dokter "Berkonspirasi" Dengan Perusahaan Farmasi

Singapura (ANTARA News) - Para dokter cenderung memberi resep obat produksi perusahaan farmasi yang mempromosikan produknya ke dokter bersangkutan namun pasienlah yang membayar lebih biaya obat tersebut. Hasil riset tim peneliti pimpinan Geoffrey Spurling dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia, ini juga mendapati fakta bahwa pasien yang menerima obat-obatan non-generik dari para dokter itu tidak selalu tepat bagi dirinya. Laporan hasil penelitian itu yang dipublikasikan Rabu didasarkan pada 58 studi di sejumlah negara. Hasil riset tersebut mendapati informasi perusahaan farmasi mempengaruhi para dokter dalam menetapkan resep obat kepada pasiennya. "Anda tidak bisa mengatakan bahwa informasi dari perusahaan-perusahaan farmasi itu membantu peresepan obat para dokter seperti diklaim perusahaan-perusahaan farmasi itu," kata Spurling. Klaim para dokter bahwa mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh informasi perusahaan farmasi saat memutuskan resep obat pasiennya juga tidak terbukti dalam hasil studi itu. "Anda patut mengatakan bahwa setidaknya pada saat tertentu, para dokter itu terpengaruh," katanya kepada Reuters. Beberapa peneliti yang terlibat dalam riset pimpinan Spurling ini merupakan anggota "Healthy Skepticism", organisasi riset, pendidikan, bantuan hukum nirlaba internasional yang dibentuk untuk membantu mengurangi bahaya informasi kesehatan yang menyesatkan bagi publik.

Laporan penelitian itu menyebutkan bahwa para dokter yang menerima penjelasan maupun informasi dari perusahaan farmasi lebih mungkin memberi resep obat produksi perusahaan farmasi bersankutan kepada pasiennya. Hasil 38 studi yang dilakukan juga menunjukkan adanya kecenderungan keterkaitan langsung antara informasi perusahaan farmasi itu dan peresepan obat. Namun hasil 13 studi lainnya tidak menunjukkan adanya keterkaitan itu, kata Suprling dan anggota tim riset pimpinannya dalam laporan penelitian yang dipublikasi jurnal "Public Library of Science PLoS Medicine" Amerika di http://www.plosmedicine.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pmed.1000352 itu. Tidak satu pun hasil studi itu mendapati para dokter menjadi kurang sering memberi resep obat karena bahan promosi maupun informasi perusahaan farmasi. Menanggapi hasil riset itu yang dilakukan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Denmark, Prancis, Estonia, Turki dan Australia, Dr.Sid Wolfe dari kelompok advokasi, Public Citizen, mengatakan bahwa industri farmasi tidak mengeluarkan dananya berikut staf penjualan obat kalau tingkat keberhasilannya nol. "Mayoritas dokter mendapatkan informasi tentang obat-obatan dari industri farmasi ini," katanya. Para staf penjualan obat perusahaan farmasi ini bahkan sering membawakan makan siang ke kantor seorang dokter praktik maupun mengundang mereka ke acara-acara olah raga dan hiburan lainnya saat mereka memberikan penjelasan. Menurut Spurling, hasil studi di Inggris terhadap lebih dari seribu orang dokter umum mendapati bahwa mereka yang lebih sering bertemu staf penjualan obat cenderung lebih sering memberikan resep-resep obat mahal.

Namun, tidak ada jaminan bahwa pasien mendapatikan obat-obatan yang tepat bagi penyakitnya. Mengutip hasil-hasil studi yang ada, Spurling mengatakan, mutu resep obat yang diberikan para dokter kepada pasiennya itu berada di bawah standar pedoman maupun rekomendasi para ahli. Sebagai contoh, pedoman resmi di Amerika Serikat sudah meminta para dokter menggunakan obat-obatan generik yang terlama dan termurah bagi para penderita tekanan darah tinggi dan diabetes sebelum beralih ke obat-obat paten yang lebih baru dan biasanya masuk kategori resep obat-obatan berbahaya. Temuan empiris ini mendorong para peneliti mengusulkan adanya pengaturan terhadap besaran uang yang boleh dialokasikan industri farmasi untuk kepentingan promosi produk mereka. Pada 2004 saja, perusahaan-perusahaan obat Amerika menghabiskan dana sebesar 57,5 miliar dolar AS untuk kegiatan promosi. "Kita perlu regulasi yang lebih atas promosi obat. Kita tidak mendapati adanya manfaat apapun," katanya. Selain itu, para dokter juga perlu mendapat informasi tentang obat dari sumber yang beragam seperti universitas dan organisasi-organisasi kredibel lainnya, katanya. "Seorang dokter yang lain tentu mengikuti informasi terkini soal obat dari kebiasaan membaca literatur dan jurnal-jurnal ilmiah," kata Wolfe. Kalau para dokter itu tidak punya waktu mendapatkan informasi obat dari kebiasaan membaca melainkan bergantung pada penjelasan staf penjualan perusahaan farmasi, mereka berarti bukanlah dokter yang baik, katanya. Berkaitan dengan masalah ini, ProPublica, pendukung jurnalisme investigatif, dan sejumlah organisasi lainnya di AS membeberkan fakta bahwa tujuh perusahaan farmasi di negara adidaya itu membayar ribuan dolar AS kepada sedikitnya 17 ribu orang dokter untuk berbicara dengan sejawatnya tentang produk-produk obat perusahaan farmasi yang bermitra dengannya. (ANT/A024)

Sumber: Antara, Rabu, 20 Oktober 2010

Kecemasan Diduga Perburuk Pasien Sakit Jantung

Jakarta (ANTARA News) - Kecemasan meningkatkan kemungkinan pasien sakit jantung untuk mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung, demikian hasil satu penelitian baru. Kaitan antara kecemasan dan peristiwa semacam itu tak dapat dijelaskan oleh prilaku kesehatan seperti merokok, parahnya penyakit, atau faktor biologi seperti tingkat hormon atau denyut jantung, demikian temuan Dr Elisabeth J Marten dari Tilburg University, Belanda, dan rekan-rekannya. "Ini sangat mengejutkan," kata Martens kepada Reuters Health melalui surat elektronik. "Langkah berikutnya ialah menemukan bagaimana gangguan kecemasan mengakibatkan hasil buruk saluran darah dan jantung." Orang yang memiliki kecemasan umum mengalami ketegangan dan kekhawatiran kronis yang berlebihan. Kondisi tersebut secara khusus diobati dengan pengobatan dan jenis tertentu terapi konsultasi. Martens dan timnya sebelumnya telah menemukan hubungan antara depresi dan resiko serangan jantung, stroke dan gangguan lain pembuluh darah dan jantung pada kelompok pasien yang sama. Semuanya ikut dalam Studi Jiwa dan Jantung, penyelidikan mengenai hubungan antara gangguan psikologis dan sakit jantung dan pembuluh darah pada 1.024 pasien sakit jantung California.

Martens dan rekannya mendapati bahwa prilaku kesehatan yang buruk --terutama kurang gerak secara fisik-- sangat menjelaskan mengapa pasien yang mengalami depresi mengakibatkan kondisi yang lebih buruk. Karena kecemasan berkaitan erat dengan depresi, para peneliti memutuskan untuk meneliti apakah kecemasan secara umum juga memberi hasil berupa gangguan. Analisis mereka meliputi 1.015 pasien, 106 di antara mereka memiliki gangguan kecemasan umum. Semuanya memiliki sakit jantung dan pembuluh darah yang stabil, yang berarti mereka memiliki bukti mengenai alirah darah yang buruk di jantung mereka, tapi penyakit mereka tak bertambah parah. Selama masa enam tahun, 371 peserta studi mengalami sakit jantung dan pembuluh darah, serangan jantung, stroke gagal jantung atau bahkan kematian. Hampir 10 persen peserta yang memiliki gangguan kecemasan umum mengalami peristiwa yang berkaitan dengan jantung dalam waktu satu tahun, dibandingkan dengan sebanyak tujuh persen mereka yang tak memiliki gangguan. Setelah para peneliti itu memperhitungkan puluhan faktor yang mungkin menjelaskan mengapa pasien yang cemas menghadapi resiko lebih besar, seperti depresi, kegiatan fisik, apakah --atau tidak-- mereka mengonsumsi obat yang diresepkan, dan radang, hubungan tersebut masih tetap ada, dan gangguan kecemasan meningkatkan resiko sampai 74 persen. Di dalam dokumen hasil penelitian mereka di Archives of General Psychiatry, Martens dan timnya mengusulkan sedikit penjelasan yang mungkin bagi kaitan itu; peningkatan hormon "perkelahian-atau-terbang" akibat kecemasan mungkin menjadi salah satu faktor, kata mereka, meskipun pasien yang cemas juga mungkin saja kurang mencari perawatan pencegahan. Untuk saat ini, kata Martens, keberadaan gangguan kecemasan pada pasien sakit jantung dapat digunakan untuk mengingatkan mereka yang menghadapi resiko sangat tinggi. "Evaluasi dan pengobatan kecemasan juga mungkin dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan menyeluruh semua pasien `coronary heart disease` (CHD)," tambahnya. "Gangguan kecemasan umum terjadi dan dapat diobati serta dapat menjadi faktor resiko yang dapat diubah pada pasien CHD (sakit jantung koroner)."(C003/A024)

Sumber: Antara, Sabtu, 10 Juli 2010

Kematian di UGD Lebih Sering di Akhir Pekan

Jakarta (ANTARA News) - Angka kematian di unit gawat darurat (UGD) lebih tinggi pada akhir pekan dibandingkan hari biasa, demikian hasil kajian yang disiarkan Selasa (6/7). Kajian yang disiarkan Healthday News tersebut menyatakan berkurangnya staf di UGD pada akhir pekan menjadi penyebab meningkatnya kematian di hari itu. Para dokter spesialis mungkin tak tersedia bertugas sehingga lebih sedikit paramedis yang bertugas pada akhir pekan, katanya. Menurut kajian itu, kelelahan yang dialami dokter juga diduga menjadi salah satu faktor lainnya. Para peneliti mengkaji hasil dari 10 studi yang mempelajari kaitan antara waktu orang masuk ke UGD dan angka kematian di Amerika Utara, Eropa dan Asia. Delapan studi yang mengkaji angka kematian selama hari itu dibandingkan dengan waktu malam dan tak menemukan perbedaan. Enam studi yang mempelajari masuknya 180.060 orang selama akhir pekan dibandingkan dengan hari lain dan memperkirakan mereka yang masuk UGD pada akhir pekan mempunyai kemungkinan meninggal delapan persen lebih banyak dari hari normal.

Namun risiko itu sesungguhnya dapat mencapai 13 persen atau paling rendah empat persen, kata pemimpin kajian tersebut Dr. Rodrigo Cavalazzi, pembantu profesor medis di University of Louisville. Para penulis kajian itu menyesuaikan statistik mereka sehingga mereka takkan terkecoh oleh perbedaan mengenai parahnya penyakit antara pasien pada hari kerja dan akhir pekan. "Kami kira masih menjadi perbedaan apakah pasien yang masih UGD selama jam libur menghadapi resiko kematian yang meningkat," kata Cavallazzi. Hasil studi tersebut tak bisa membuat Cavalazzi berspekulasi lebih mengenai perbedaan antara kematian pada hari kerja dan akhir pekan. "Mungkin lebih sulit untuk memperoleh pengobatan dan pemeriksaan penting selama akhir pekan, meskipun kajian kami tak memberi data yang memperlihatkan ini," kata Cavalazzi sebagaimana dilaporkan kantor berita China, Xinhua. Walaupun ada temuan tersebut, para ahli kesehatan mengatakan pasien tak perlu menunggu sampai Senin pagi jika merasa sakit di dada atau temperatur tinggi pada akhir pekan. "Jangan menunggu," kata Dr. Richard Dubinsky, Direktur Program Syaraf di University of Kansas Medical Center, yang mengetahui temuan kajian itu. "Jika Anda mengira menderita sakit parah atau mengalami serangan jantung atau stroke, jangan menunggu untuk meminta bantuan."

Dubinsky mengatakan juga ada kemungkinan lain atas tingginya angka kematian pada akhir pekan, yakni karena orang yang masuk rumah sakit pada akhir pekan, mungkin lebih sakit dibandingkan dengan mereka yang datang pada hari lain dalam satu pekan. Kendati studi dalam kajian tersebut berusaha memperhitungkan parahnya penyakit, Dubinski mengatakan studi itu mungkin tak berkenaan dengan beberapa kasus penyakit yang lebih parah. Pada akhir pekan, katanya, pasien mungkin menunggu lebih lama sampai rumah sakit menangani gejala serangan jantung atau stroke. Pada saat mereka sampai di sana, mereka mungkin berada dalam kondisi yang lebih buruk. Dalam penelitiannya sendiri, Dubinsky telah mendapati orang yang masuk rumah sakit karena jantung mereka berhenti berdenyut secara tiba-tiba menghadapi kemungkinan 13 persen lebih tinggi untuk meninggal pada akhir pekan. "Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai kemungkinan penyebab meningkatnya kematian pada pasien yang masuk UGD pada akhir pekan sebelum perubahan radikal disarankan bagi penanganan UGD," kata Dubinsky.Xin/C003/T010/AR09

Sumber: Antara, Rabu, 7 Juli 2010

Alergi pada Anak di Indonesia Meningkat

Jakarta (ANTARA News) - Pakar internasional kesehatan anak, Sibylle Koletzko mengatakan, dalam lima dekade di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia mengalami peningkatan prevalensi alergi sebanyak empat hingga lima kali lipat. Dalam acara temu media di Jakarta, Selasa, ia mengatakan terjadi peningkatan signifikan angka penyakit gangguan sistem daya tahan tubuh, seperti alergi seiring dengan penurunan angka penyakit infeksi seperti `tuberculosis` (TBC) dan campak. "Penyakit alergi sangat erat dengan daya tahan tubuh anak," kata Kepala Divisi `Pediatric Gastroenterology and Hepatology`, Ludwig Maximilians University Munich, Jerman tersebut. Menurut Koletzko, di Indonesia, lima besar makanan pencetus alergi pada anak-anak adalah kelompok `crustacea`, kacang, makanan laut, telur serta susu sapi. "Alergi adalah respon sistem daya tahan tubuh secara berlebihan terhadap substansi yang biasanya tidak berbahaya, yang dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, mulai dari gangguan pernapasan, gangguan pada saluran cerna, maupun kulit," paparnya. Senada dengan itu, Kepala Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, Zakiudin Munasir mengatakan, melonjaknya kasus alergi pada anak di Indonesia, selain disebabkan oleh faktor genetik, juga dipengaruhi faktor lingkungan. Oleh karena itu, lanjutnya, sangat penting bagi ibu untuk melakukan tindakan-tindakan preventif pada masa kehamilan, kelahiran maupun pada masa kanak-kanak karea jika kita memiliki alergi pada masa kanak-kanak, maka saat kita beranjak dewasa resiko terkena alergi pun juga akan besar. "Indonesia merupakan penderita alergi paling rendah di dunia karena tingkat infeksi yang tinggi," kata Zakiudin. Dia mengatakan, saat ini alergi belum dipandang sebagai ancaman epidemik seperti penyakit infeksi, maka belum banyak tindakan preventif yang dilakukan masyarakat. Padahal, ujarnya, keadaan ini berpotensi menjadi masalah di kemudian hari karena tak hanya mengganggu kualitas hidup penderita, namun juga menurunkan produktivitas orang-orang di sekelilingnya, penyebab stres pada anak dan menurunkan prestasi anak. (PSO-006/R009)

Sumber: Antara, Rabu, 7 Juli 2010

Studi: Depresi Tingkatkan Resiko Dementia

Washington (ANTARA News/Xinhua-OANA) - Mengalami depresi mungkin sangat meningkatkan resiko serangan dementia pada masa hidup nantinya, demikian satu studi yang disiarkan Selasa di Neurology, jurnal mesi American Academy of Neurology. Untuk studi tersebut, para peneliti mempelajari data dari 949 orang yang rata-rata berusia 79 tahun dari Framingham Heart Study. Pada awal studi itu, para peserta terbebas dari dementia (hilang ingatan) dan diperiksa untuk mengetahui gejala depresi berdasarkan pertanyaan mengenai depresi umum, keluhan gangguan tidur, hubungan sosial dan faktor lain. Sebanyak 125 orang, atau 13 persen, diklasifikasikan sebagai memiliki depresi pada awal studi tersebut. Semua peserta diikuti perkembangan mereka selama 17 tahun. Pada akhir studi itu, 164 orang telah terserang dementia dan 136 di antara mereka didiagnosis secara khusus dan diketahui menderita Alzheimer`s. Hampir 22 persen peserta yang mengalami depresi pada awal studi tersebut terserang dementia dibandingkan dengan sebanyak 17 persen yang tak terserang depresi.

Resiko mutlak selama 10 tahun untuk terserang dementia ialah 0,21 pada orang yang tak memiliki gejala depresi dan 0,34 pada orang yang memiliki gejala depresi. Hasil tersebut sama tanpa membedakan usia, jenis kelamin, pendidikan orang dan apakah mereka memiliki gen APOE, yang meningkatkan resiko seseorang terserang penyakit Alzheimer`s. "Meskipun tidak jelas apakah depresi menyebabkan dementia, ada sejumlah bukti mengenai kemungkinan resiko depresi memiliki dampak pada resiko seseorang terserang dementia," kata penulis studi itu, Jane Saczynski, dari University of Massachusetts Medical School. "Radang jaringan otak yang muncul ketika seseorang terserang depresi mungkin memberi sumbangan bagi dementia. Protein tertentu yang ditemukan pada otak yang meningkatkan depresi juga mungkin meningkatkan resiko serangan dementia. Selain itu, beberapa faktor gaya hidup yang berkaitan dengan depresi jangka panjang, seperti makanan dan jumlah waktu berolah raga serta waktu seseorang terlibat dalam kehidupan bermasyarakat, dapat juga mempengaruhi apakah mereka terserang dementia," katanya. (Uu.C003/R009)

Sumber: Antara, Selasa, 6 Juli 2010

Gen Virus Influenza A Bermutasi

Pontianak (ANTARA News) - Virus influenza type A seperti A5N1 dan A1N1 diperkirakan gennya telah bermutasi sehingga bisa berkembang di Pontianak, Kalimantan Barat, yang bersuhu sekitar 30 derajat celcius. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Multi Juto Bhatarendro, di Pontianak Selasa mengatakan, dengan temperatur Kota Pontianak yang seperti itu seharusnya virus apa pun dapat mati. Kalau pun dapat bertahan kemungkinan pada musim hujan. "Jadi virus flu burung, flu babi, ataupun SARS dapat muncul pada saat musim penghujan Desember hingga April dan biasanya di negara-negara beriklim dingin," ungkapnya. Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung ini menyangsikan jika Kota Pontianak, daerah yang dilewati garis Equator dengan sinar matahari yang cukup menjadi tempat berkembang virus influenza A itu. "Ini agak aneh, berarti ada mutasi gen ataupun mobilisasi yang tinggi dari mana asal usul virus tersebut," kata Multi. Tidak hanya itu, karena perkembangan virus juga berhubungan erat dengan vektor tentunya akan berkait pula dengan masalah lingkungan sekitar. "Misalnya saja jika terserang flu dan tidak mau menggunakan masker dan tidak mau berjauhan dengan orang sehat tentunya secara inhalasi orang yang sehat akan terjangkit," katanya. Untuk itu, Multi menyarankan kepada warga agar selalu membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Sejak ditemukannya kasus ayam mati mendadak tiga pekan lalu, tercatat enam warga yang dinyatakan suspect flu burung. Namun, dari hasil pemeriksaan terakhir menyatakan, empat diantaranya negatif flu burung dan dua lagi dinyatakan positif flu babi. Dinkes Kota Pontianak, menyatakan dua pasien yang dinyatakan positif flu babi saat ini sudah sembuh dan sudah kembali ke rumah. (PSO-089/Z003/S026)

Sumber: antara, Selasa, 6 Juli 2010

Sekarang Giliran Studi di Asia Kaitkan Kegemukan dengan Kanker

Hong Kong (ANTARA/Reuters) - Orang Asia yang kelebihan berat badan atau kegemukan lebih mungkin untuk meninggal akibat kanker dibandingkan dengan orang yang memiliki berat normal, demikian hasil satu studi besar di Asia. Kegemukan dianggap sebagai salah satu faktor risiko serangan kanker tertentu di Barat, tapi setakat ini belum jelas apakah penyakit itu menimbulkan risiko yang sama bagi orang Asia. Para peneliti memantau 401.215 orang di China, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Australia dan Selandia Baru selama empat tahun. Dibandingkan dengan orang yang memiliki berat normal, para peserta studi tersebut yang kegemukan menghadapi kemungkinan 21 persen lebih besar untuk meninggal akibat kanker, sementara mereka yang kelebihan berat badan menghadapi kemungkinan enam persen lebih tinggi, demikian temuan studi tersebut. Para peneliti itu mendapati peserta yang kegemukan sangat rentan terhadap kanker usus, dubur, payudara, indung telur, cervix, prostat dan leukemia. "Orang yang kelebihan berat dan kegemukan pada masyarakat di seluruh wilayah Asia-Pasifik memiliki risiko mencolok untuk meninggal akibat kanker," tulis para peneliti tersebut di dalam dokumen yang diterbitkan di The Lancet Oncology, Rabu. "Berbagai strategi baru sangat diperlukan untuk menangani wabah kegemukan di Asia guna mencegah peningkatan lebih lanjut beban kanker di wilayah ini," kata kelompok peneliti itu --yang dipimpin oleh Christine Parr di University of Oslo di Norwegia. Telah terjadi peningkatan pesat jumlah orang yang kegemukan di banyak negara Asia dalam beberapa dasawarsa belakangan, yang dipicu oleh kemakmuran pertumbuhan dan perpindahan orang dari pinggiran ke kota besar, tempat mereka menjadi kurang gerak dan memakan makanan yang lebih banyak mengandung lemak.

Sumber: Antara

Obat Tradisional Sesuai untuk Penyakit Metabolik

Berbagai penyakit yang bersifat metabolik dan generatif lebih sesuai diobati dengan obat-obatan tradisional. "Karena obat tradisional rata-rata sangat sedikit menimbulkan efek samping," kata Guru Besar bidang Genetika Molekuler Reproduksi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara Prof. Syafruddin Ilyas di Medan, Sabtu. Penyakit metabolik, kata dia, merupakan penyakit medis yang berkaitan dengan produksi energi di dalam sel manusia yang sebagian di antaranya disebabkan makanan, racun, dan infeksi. Jenis penyakit ini seperti diabetes, hiperlipidemia, asam urat, batu ginjal dan hepaptitis. Sementara penyakit degeneratif penyakit yang mengiringi proses penuaan seperti rematik, asma, tukak lambung, dan pikun. Ia mengatakan, pola penyakit dewasa ini telah mengalami pergeseran dari penyakit infeksi ke penyakit-penyakit metabolik degeneratif. Hal ini berhubungan dengan laju perkembangan tingkat ekonomi dan peradaban manusia yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi dengan berbagai penemuan baru yang bermanfaat dalam pengobatan dan peningkatan kesejahteraan umat manusia.

Penggunaan tanaman obat sebelum tahun 1970-an dalam menanggulangi penyakit infeksi tidak efektif karena efeknya sangat lambat. Tetapi periode berikutnya hingga sekarang sudah cukup banyak ditemukan turunan antibiotika baru yang potensinya lebih tinggi sehingga mampu membasmi berbagai penyakit infeksi. Namun, lanjut dia, timbul penyakit baru yang bukan disebabakan oleh jasad renik melainkan oleh gangguan metabolisme tubuh akibat konsumsi berbagai jenis makanan yang tidak terkendali, serta gangguan faal tubuh sejalan dengan proses degenerasi. Penanggulangan penyakit tersebut butuh waktu lama sehingga jika obat modern yang dipakai dikhawatirkan menimbulkan efek samping hingga merugikan kesehatan. "Oleh sebab itu tanaman obat atau obat-obatan tradisional lebih cocok untuk pengobatan penyakit metabolik dan degeneratif itu karena efek samping yang ditimbulkan relatif kecil sehingga dianggap lebih aman," katanya.(T.KR-JRD/R009)

Sumber: Antara

Penderita Migren Berisiko Terkena Stroke

Berdasarkan penelitian terbaru, penderita migren dua kali lebih rentan terkena stroke yang disebabkan oleh penggumpalan darah dibanding orang tanpa penyakit sakit kepala akut tersebut. Analisa yang menggabungkan 21 hasil penelitian terdahulu, memastikan adanya hubungan antara migren dan "ischemic stroke" -- jenis stroke paling umum, terjadi pada saat gumpalan mengganggu aliran darah ke otak. Dari seluruh penelitian, penderita migren dua kali lebih rentan terkena ischemic stroke dibanding orang yang tidak sakit migren, menurut penemuan yang diterbitkan oleh "American Journal of Medicine (http://www.amjmed.com/article/S0002-9343(10)00129-4/abstract). Para ahli tidak yakin hubungan antar kedua penyakit, dan belum diketahui apakah migren tersebut menjadi penyebab utama stroke untuk beberapa penderita. Namun, kecenderungan tersebut memiliki kesamaan proses mendasar yang mengkontribusi risiko migren maupun stroke, kata peneliti senior Dr. Saman Nazarian, yang juga asisten profesor Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore. Ia mengatakan kepada Reuters bahwa saat ini hal mendasar bagi seorang penderita migren ialah mereka harus sangat waspada untuk mengendalikan segala faktor yang biresiko terkena stroke. Beberapa faktor risiko tersebut termasuk tekanan darah tinggi, merokok dan diabetes. "Hal pertama yang saya inginkan kepada semua orang untuk menghindarkan diri adalah hal tersebut. Bila mereka terkena migren, mereka harus memikirkan faktor risiko terkena stroke," kata Nazarian, dan menambahkan, "Mereka seharusnya tidak merokok dan mereka harus memperhatikan tekanan darah mereka dan lakukan perawatan bila memang tinggi."

Para ahli juga umumnya mengatakan orang-orang dengan migren harus ingat bahwa meski sakit kepala terkait dengan meningkatnya risiko stroke, resiko mutlak untuk terkena pada seseorang masih relatif rendah. Sebagai contoh, dalam penelitian terkini yang melibatkan 6.100 penderita migren hanya dua persen dilaporkan memiliki riwayat stroke, dibanding 1,2 persen dari 5.243 orang yang tidak menderita migren. Penemuan terbaru ini berdasarkan 21 penelitian internasional yang dilakukan antara 1975 dan 2007 dan melibatkan lebih dari 622.000 orang dengan dan tanpa penyakit migren. Kebanyakan dari penelitian tersebut ditunjang oleh beberapa faktor yang membantu menjelaskan hubungan antara migren dan risiko stroke, seperti usia lanjut, tekanan darah tinggi, diabetes, kebiasaan merokok dan berat badan. Meski demikian, tim peneliti Nazarian menggabungkan 21 hasil temuan tersebut dan menyimpulkan migren berhubungan dengan risiko stroke menjadi dua kali lipat. Penyebab persis dari migren belum diketahui sepenuhnya, tetapi penyakit tersebut yang melibatkan penyempitan pembuluh darah, kemudian pembengkakan pembuluh nadi di otak. Satu teori menyebutkan orang dengan migren bisa terkena disfungsi pada pembuluh nadi di sekujur tubuh, yang menjelaskan kenapa risiko stroke meningkat, dan seperti pada temuan dalam penelitian sebelumnya, juga serangan jantung. Belum diketahui apakah dapat mengobati dan mencegah serangan migren akan berpengaruh pada risiko masalah kardiovaskuler. Pada satu sisi, peneliti telah mencatat, obat-obatan untuk mencegah serangan migren secara teori merendahkan risiko masalah kardiovaskuler. Di sisi lain, pengobatan tertentu bisa memberi pengaruh yang buruk, beberapa obat analgesik anti-inflamasi telah dihubungkan dengan risiko kardiovaskuler, sementara obat migren dikenal sebagai "ergots" cenderung menyempitkan pembuluh nadi di sekujur tubuh. (Uu.SYS/KR-IFB/M043/S026)

Sumber: Antara

Sembelit Jangan Dianggap Remeh

Sembelit alias sulit buang air besar kerap dipandang enteng dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, sembelit yang dibiarkan berlarut-larut berpengaruh buruk bagi kesehatan, termasuk mengakibatkan kanker. Kebiasaan buang air besar juga bisa menjadi pertanda hadirnya penyakit lain. indira permanasari. Orang kerap abai meski berkali-kali hanya satu kali buang air besar dalam seminggu,” ujar Dadang Makmun, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Gastroenterologi, dalam jumpa pers mengenai Konsensus Nasional Penatalaksanaan Konstipasi 2010 akhir pekan lalu. Bahkan, pernah terdapat kasus seseorang yang tidak buang air besar selama satu bulan. Persoalan sembelit sebetulnya cukup umum atau ada di sejumlah negara. Di negara maju, seperti Amerika, gangguan ”ke belakang” akan menguras kantong. Kunjungan ke rumah sakit akibat konstipasi terhitung 2,5 juta orang setahun. Dari jumlah itu dan 100.000 orang terpaksa dirawat di rumah sakit. Di negeri itu, total pengeluaran untuk laksatif (obat pencahar) mencapai 800 juta dollar AS. ”Di Indonesia belum ada data nasional gangguan sembelit,” ujar Dadang. Dia mencontohkan, dari 2.397 pasien di RSUPN Cipto Mangunkusumo yang menjalani pemeriksaan kolonoskopi tahun 1998–2005, 9 persen dengan konstipasi. ”Diduga, jumlah penderita konstipasi di Indonesia cukup besar,” ujarnya.

Sebesar

36,4 persen menderita wasir dan sekitar 8 persen di antaranya menderita tumor ganas atau kanker usus besar. Terkadang ditemukan pula polip. Semakin lama kotoran di dalam perut, kontak dengan dinding usus bertambah sehingga rawan menyebabkan perubahan atau mutasi sel pada dinding usus. Konstipasi didefinisikan sebagai frekuensi buang air besar kurang dari normal dengan waktu lama, kesulitan, dan disertai rasa sakit saat mengeluarkan tinja. Faktor yang mendasari konstipasi, antara lain, adalah kurang gerak, kurang minum, kurang serat, sering menunda buang air besar, kebiasaan menggunakan obat pencahar, efek samping obat-obatan tertentu, dan depresi. Gangguan lebih berat, seperti usus terbelit, usus tersumbat, dan kanker usus besar, juga bisa menjadi penyebab. Proses buang air besar dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang mengantarkan tinja ke rektum (poros usus) untuk dikeluarkan. Tinja masuk dan meregangkan pipa poros usus diikuti relaksasi otot lingkar dubur dan kontraksi otot dasar panggul. Poros usus akan mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot-otot dinding perut.

Dilihat dari waktu

Ari Fahrial Syam dari Divisi Gastroenterologi RSUPN Cipto Mangunkusumo menegaskan, konstipasi dilihat dari waktu dan bentuk kotoran. Waktu transit makanan di dalam usus berkisar 12–72 jam. Frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali dalam satu minggu sudah termasuk konstipasi. Konstipasi dapat pula ditengarai dari bentuk kotoran, antara lain bergumpal-gumpal kecil atau terlalu cair. Apalagi, seseorang harus menunggu lama atau harus mengejan untuk mengeluarkan tinja.

Dua jenis konstipasi

Konstipasi dibagi menjadi konstipasi primer dan sekunder. Konstipasi primer merupakan konstipasi fungsional yakni tidak ditemukan kelainan organik maupun biokimiawi di dalam tubuh setelah pemeriksaan saksama. Adapun konstipasi sekunder merupakan konstipasi yang disebabkan penyakit lain, seperti kencing manis, hipotiroid, dan kanker usus besar. Jika usia seseorang berkisar 20–40 tahun, mengalami konstipasi sekunder, dan terdapat kelainan dalam pemeriksaan colok dubur, dokter akan memeriksa lebih lanjut. ”Untuk kasus demikian, penanganan tidak sekadar menghilangkan gejala konstipasinya, tetapi juga penyakit penyebabnya,” ujar Ari. Dia mengatakan, penanganan konstipasi dimulai dengan perubahan gaya hidup selama 2–4 minggu. Rekomendasi yang diberikan, antara lain, adalah menambah masukan serat. Konsumsi serat masih menjadi masalah di Indonesia. Jumlah serat yang disarankan 25 gram. Namun, berdasarkan penelitian Kementerian Kesehatan, konsumsi serat masyarakat Indonesia di sejumlah kota masih 12,5 gram atau separuh dari rekomendasi. Serat yang disarankan ialah yang diperoleh dengan diet berimbang sayur dan buah 50–60 persen, protein 30 persen, dan lemak 20–30 persen. Konsumsi air disarankan memadai, yakni 30–60 cc per jam dan olahraga yang cukup. Serat bersifat menahan air sehingga bermanfaat untuk melembabkan, melunakkan, dan memberikan berat pada feses. Penggunaan obat pencahar diperbolehkan dan sedapat mungkin tidak dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Obat laksatif bekerja dengan cara membuat kotoran menggumpal atau merangsang usus bergerak. Ari mengatakan, dalam konsensus terakhir, dua obat pencahar, yakni anthraquinone dan tegaserod sudah ditarik karena ada efek samping. Obat anthraquinone merusak dinding usus dan tegaserod berefek ke jantung.

Belakangan,

bakteri probiotik menjadi salah satu alternatif menangani konstipasi. Probiotik merupakan bakteri hidup yang ditambahkan pada makanan dan mempunyai efek menguntungkan dengan meningkatkan kesehatan flora usus. Tingkat efektivitas tergantung galur (strain) bakteri tersebut. Beberapa jenis probiotik, antara lain Bifidobacterium animalis lactis, Bifidobacterium bifidus, Bifidobacterium brevis, Bifidobacterium infantis, Lactobacillus acidophilus, dan Lactobacillus rhamnosus. Makanan yang difortifikasi dengan probiotik, antara lain, adalah produk susu seperti yogurt. Jadi jelas sudah, kita tidak boleh main-main dengan konstipasi. Jika berbagai cara penanggulangan konstipasi primer tidak berhasil, diperlukan pembedahan usus. Namun, agar tidak dipusingkan dengan konstipasi tentu lebih baik mencegahnya sedari dini dan menjaga kondisi pencernaan baik-baik. Seorang dokter ternama, Sir Arthur Hurst (1879–1944), terkenal dengan kata-katanya, ”Tidak ada organ di seluruh tubuh kita yang sangat disalahpahami, dijadikan kambing hitam, dan diperlakukan secara semena-semena seperti halnya usus besar”. Kasus sembelit sepertinya membuktikan ungkapan itu.

Sumber: Antara

Setengah Dosis Obat Diabetes Cegah Jadi Penderita

Dosis rendah obat diabetes Avandia buatan GlaxoSmithKline yang dikombinasikan dengan metformin dapat mencegah diabetes tanpa menyebabkan efek samping, menurut laporan dokter Kanada pada Rabu. Meminum setengah dosis kombinasi pil Glaxo mengurangi dua pertiga risiko menderita kadar gula tinggi dalam darah--pra-diabetes--sebelum diabetes tipe-2 penuh, para peneliti melaporkan dalam jurnal kesehatan Lancet. Empatbelas persen pasien yang mendapatkan penanganan dengan obat itu menunjukkan perkembangan membaik setelah empat tahun, dibandingkan dengan 39 persen pasien yang diberikan placebos. Efeknya mungkin sama saja dengan obat Avandia dari kelas yang sama, Takeda Actos, kata seorang pemimpin penelitian Dr. Bernard Zinman dari Rumah Sakit Gunung Sinai di Universitas Toronto. "Saya pikir ini adalah kelas (tingkatan) efek," kata Zinman dalam wawancara telepon. Actos dikenal secara umum sebagai pioglitazone dan Avandia atau sebagai rosiglitazone, dalam kelas obat disebut thiazolidinediones yang berfungsi membantu tubuh mengoptimalkan insulin. Diabetes tipe-2 disebabkan karena tubuh secara bertahap kehilangan kemampuan merespon insulin, suatu kondisi yang disebut resistensi insulin. Disebabkan karena makan terlalu banyak, kurang olahraga, gen, dan beberapa faktor lainnya. Gejalanya, insulin bekerja kurang baik, kenaikan tingkat glukosa dalam darah, rusaknya pembuluh darah dan organ. Sel-sel beta dalam pankreas mulai kehilangan kemampuan untuk membuat insulin.

Efek Samping

Avandia dan Actos bekerja dengan baik membantu bahkan mencegah diabetes. Tapi mereka memiliki efek samping seperti retensi cairan gagal jantung, bahkan serangan jantung. Glaxo akan menyelesaikan gugatan atas Avandia yang menyebabkan serangan jantung. US Food and Drug Administration sedang mengkaji data tentang kemungkinan risiko serangan jantung dari obat tersebut. Glaxo akan mencari dana untuk menyelamatkan pasar Avandia yang goyah dan membayar penelitian. Penjualan Avandia mencapai 3 miliar dolar pada 2006, tapi jatuh menjadi 1,2 miliar dolar pada 2009. Metformin adalah obat yang lebih dulu membantu insulin dalam tubuh tetapi dapat menyebabkan sakit perut. Jadi Zinman mencoba setengah dosis kedua obat tersebut untuk melihat apakah efektif dan mengurangi efek samping. Timnya merekrut 207 pasien pra-diabetes dan memberi mereka dua pil--kombinasi Avandia dan metformin atau placeboss--setiap hari. Peneliti memantau mereka untuk hampir empat tahun. "Efek samping itu tidak ada--berat badan, retensi cairan, efek samping gastrointestinal," kata Zinman.

Penelitian tersebut tidak berlangsung lama untuk membuktikan apakah gagal jantung atau serangan jantung akan terjadi, tapi Zinman mengatakan cairan retensi berpotensi terhadap jantung. Keduanya, Avandia dan Actos, akan segera tersedia dalam bentuk generik, dan metformin sudah sejak lama, berarti cara murah untuk mencegah diabetes, ujarnya. Perubahan gaya hidup seperti olahraga dan mengurangi berat badan juga membantu mencegah diabetes, tapi orang tidak melakukannya dengan baik, katanya. "Konsep menggabungkan dosis submaximum dalam obat bertujuan menjaga efektivitas dan mengurangi efek samping merupakan salah satu yang menarik," tulis Dr Thomas Buchanan dari Universitas Southern California dalam sebuah komentar. Federasi Diabetes Internasional memperkirakan bahwa 300 juta orang di seluruh dunia termasuk prediabetes dan 230 juta orang mengidap diabetes. (Adm/S026)

Sumber: antara