Bila Air Seni Jadi Kopi Pagi

Bila Anda bermimpi jadi astronot, agaknya Anda harus lebih dulu membiasakan diri dengan selera dan cita rasa ala luar angkasa. Salah satunya cita rasa air minum hasil proses daur ulang Seperti dilansir dari situs BBC, NASA kini memiliki sistem regenerasi air, yang mampu melakukan proses daur ulang berbagai cairan sisa, termasuk - maaf, air seni. Sistem daur ulang cairan yang bernilai USD 250 juta itu bekerja sangat baik sekali di darat. Namun, belum teruji di lingkungan bergravitasi-nol seperti di pesawat luar angkasa. Nah, sistem tersebut, tengah diuji, bersamaan dengan mangkatnya para awak pesawat luar angkasa Endeavour, dari instalasi peluncuran Kennedy space Center, Jum'at lalu. Sistem tersebut bakal memberlakukan proses ionisasi, penyaringan, penyulingan, dan oksidasi pada cairan-cairan sisa, termasuk cairan urine. Hasil saringan air sisa itu akan disulap menjadi kopi pagi yang siap disruput para awak pesawat. Namun, bagi yang telah terbiasa mencecapnya, rasa air tersebut tak ada bedanya dengan air mineral lain. Hanya sedikit ada nuansa yodium, karena yodium memang ditambahkan untuk mengontrol pertumbuhan kuman di air tersebut. "Mungkin banyak yang mengira ini sangat menjijikkan. Padahal air yang telah diproses, jauh lebih murni ketimbang apa yang Anda minum di bumi," ujar Heidemarie Stefanyshyn Piper, salah satu astronot yang telah mencoba air tersebut. Senada dengan Piper, Bob Bagdigian. "Saya menyimpan contoh air itu. Rasanya sama-sama menyegarkan bila dibanding dengan air-air lain. Bagi saya, rasanya oke-oke saja." Mau mencoba?

Sumber: vivanews.com

Ditemukan, Dua Planet Mirip Bumi

Para peneliti Eropa mengklaim telah menemukan dua planet yang mirip dengan bumi. Planet Gliese 581e memiliki ukuran mirip bumi, sementara planet lainnya, Gliese 581d memiliki kemiripan karakter dengan bumi sehingga kemungkinan besar dapat ditempati mahluk hidup. Kedua planet ini terletak di konstelasi Libra. "Penemuan planet berbatu mirip bumi di lokasi yang memungkinkan makhluk hidup berkembang ini merupakan tonggak penelitian eksoplanet," kata Michel Mayor, peneliti astrofisika asal Universitas Jenewa, Swiss, saat melakukan presentasi di Universitas Hertfosrdhire, Inggris, Selasa 21 April 2009. Planet Gliese 581e berukuran 1,9 kali besar bumi. Selama ini, planet yang ditemukan di luar tata surya matahari rata-rata berukuran sebesar planet Yupiter. Gliese 581e terletak di dekat bintang Gliese sehingga terlalu panas untuk ditinggali. "Tapi penemuan planet yang terletak 20,5 tahun cahaya dari tata surya ini tetap sebuah langkah maju untuk menemukan planet mirip bumi," ujar Mayor. Sementara planet Gliese 581d yang ditemukan pada 2007 terletak di posisi yang memungkinkan air untuk mencair di permukaan planet. Rekan Mayor, Stephane Udry mengatakan Gliese 581d kemungkinan besar tidak terbentuk dari bebatuan saja. "Planet itu bisa saja memiliki lautan luas dan dalam, planet ini merupakan kandidat planet yang memiliki cadangan air pertama" kata Udry. Pesaing tim Mayor, Geoff Marcy dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat memuji penemuan Gliese 581e. "Penemuan ini sangat luar biasa artinya bagi riset planet mirip bumi, pasti masih ada miliaran planet mirip bumi lainnya di galaksi," kata Marcy melalui surat elektronik kepada Associated Press. (AP)

Sumber: vivanews.com

Komet Lulin Dekati Bumi

Komet berwarna kehijauan dengan "dua ekor" bernama Lulin akan berada di posisi terdekat dengan bumi, Selasa pukul 22.43 waktu Amerika bagian timur (ET) atau sekitar Rabu pagi WIB. Dengan jarak 38 mil atau sekitar 61 juta kilometer, Komet Lulin bisa dilihat dengan mata telanjang. Ini karena bintang berekor yang juga dikenal sebagai "komet hijau" ini akan mencapai tingkat warna paling terang dan laju paling cepat saat berjarak 38 mil dari Bumi kira-kira pada pukul 22.43 ET. Komet Lulin ditemukan pertama kali 11 Juli 2007 lalu oleh Quanzhi Ye, mahasiswa Universitas Sun Yat Sen, China, saat sedang mempelajari foto hamparan bintang hasil jepretan astronom Taiwan, Chi Sheng Lin, di Lulin Observatory. Seperti dikutip dari laman News-Press, Selasa 24 Februari 2009, Lulin akan tampak terang saat dilihat dari mulai senja hingga fajar di berbagai belahan bumi. Jika dipandang jauh dari gemerlap lampu kota, maka Lulin bisa dilihat dengan mata telanjang. Selain itu, maka teleskop atau binokuler bisa digunakan. Bintang berekor ini dapat ditemukan di bawah planet Saturnus, di konstelasi Leo. Lulin akan bergerak dengan kecepatan 60 ribu mph (mil per jam), cahaya benda langit ini akan sangat terang. Namun itu relatif. "Karena sangat dekat dengan bumi, seharusnya Lulin menjadi komet paling terang. Tetapi hal itu tergantung lokasi kita saat melihatnya. Jika melihat dari daerah pedesaan Lulin akan terlihat sangat terang," kata Rich Talcott, seorang pemimpin redaksi majalah Astronomy. Ahli perbintangan mengatakan, Lulin akan tampak seperti bola mungil dengan dua ekor, satu ekor di depan, dan satu lagi di belakang. Satu ekor berpendar dan ekor lain mengarah ke matahari. Ini yang menjadikan Lulin berbeda dengan komet lain yang biasanya hanya memiliki satu ekor. Lulin mengorbit berlawanan arah dengan orbit planet. Nuansa kehijauan Lulin berasal dari jenis gas beracun, karbon dan cyanogen.

Sumber: vivanews.com

Perancangan Satelit Nano Ajak Mahasiswa; Siapkan Bibit Unggul di Bidang Teknologi Dirgantara

Kemampuan mahasiswa Indonesia dalam teknologi mekatronika—terutama robotik—di dunia terbukti dalam kemenangan di beberapa kancah kompetisi internasional. Karena itu, mereka akan dilibatkan dalam perancangan muatan roket dan pembuatan satelit nano.

Hal ini disampaikan Suryo Hapsoro Tri Utomo, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, dalam jumpa pers tentang Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010. Korindo ketiga ini digelar Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Kemdiknas, Universitas Gadjah Mada, dan Kabupaten Bantul di Pantai Pandansimo, Srandakan, Bantul, Yogyakarta. 26-28 Juni 2010. Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata mengatakan, dalam perancangan satelit nano oleh kalangan mahasiswa, peneliti Lapan akan memberikan pelatihan dan pendampingan. Lapan sendiri saat ini lebih memfokuskan pada perancangan satelit mikro yang berbobot 10 kg hingga mendekati 100 kg. Adapun satelit nano berukuran di bawah 10 kg. Dalam program pendidikan dan pelatihan perancangan satelit nano itu, Suryo mengharapkan hasilnya telah dapat dicapai tahun 2014. Satelit nano ini, kata Soewarto, dapat ditumpangi bersama satelit mikro Lapan A-2 dan Lapan A-3 (Lapan-Orari) pada roket India yang akan diluncurkan pada 2014. Dihubungi di tempat terpisah, Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun mengatakan, satelit kembar Lapan tersebut pada hari Minggu (20/6) berhasil meluncurkan roket untuk uji komponen multimisi di Pamengpeuk, Banten. Peluncuran ini pada ketinggian suborbital–satu tahap menuju orbit. Dalam uji terbang, sinyal satelit Lapan-Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) dapat diterima para anggota Orari yang berada di Lampung dan Bali.

Kompetisi rancang bangun

Korindo 2010 yang diadakan setiap tahun merupakan ajang kompetisi di bidang rancang bangun muatan roket bagi mahasiswa Indonesia yang bertujuan menyiapkan bibit unggul di bidang teknologi dirgantara, khususnya peroketan. Kompetisi tahun ini, kata Endro Pitowarno, bertema Homing Meteo Payload, yakni rancang bangun payload (muatan roket) yang mampu kembali atau menuju sasaran yang telah ditentukan setelah terpisah dari roket peluncur. Dalam hal ini mereka dituntut untuk merancang sistem propeler dan kendalinya. Korindo 2010 akan diikuti 53 tim dari 38 peserta yang kemudian diseleksi hingga tinggal 40 tim. Kompetisi ini terdiri tiga tahap seleksi, yaitu uji fungsional muatan, uji terbang muatan, dan presentasi data hasil uji terbang. Untuk pertama kalinya, kompetisi ini akan disaksikan pengamat dari Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF), dari Jepang dan Malaysia. Korindo 2010 diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Lapan, Universitas Gadjah Mada, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan institusi Akademi Angkatan Udara. (YUN)

Sumber: Kompas

Murid SMP Temukan Goa Misterius di Mars

Sekelompok murid kelas VII—setara kelas I sekolah menengah pertama—menemukan goa misterius di Planet Mars. Saat itu, mereka tengah mengerjakan proyek riset guna mempelajari citra yang diambil pesawat ruang angkasa NASA yang mengorbit di planet merah itu. Temuan itu berupa penampakan yang diduga merupakan lubang pada atap goa. Keenam belas anak tersebut merupakan murid kelas sains dari Dennis Mitchell, guru kelas VII di Evergreen Middle School di Cotton Wood, California. Para murid itu tengah berpartisipasi dalam kegiatan Mars Student Imaging Program di Mars Space Flight Facility di Arizona State University. Murid-murid diminta membuat semacam proposal riset dan kemudian diperbolehkan menggunakan kamera yang tengah mengorbit di Mars untuk mengambil gambar guna menjawab pertanyaan riset mereka. Lubang yang mirip dengan temuan baru itu pernah ditemukan sebelumnya di bagian lain Mars pada 2007 oleh Glen Cushing, seorang ahli geologi asal Amerika. Cushing berpandangan, citra yang ditangkap itu menyerupai ”lubang atap”, tempat sebagian dari atap goa atau lubang aliran lava runtuh. Liang itu diduga diakibatkan oleh aktivitas vulkanik di planet merah. Pada suatu masa, aliran lava keluar dari permukaan batuan dan meninggalkan bekas berupa liang setelah erupsi usai. Ujung lubang itu tertutup oleh material yang mendingin dan sebagian ”pipa” bekas aliran lava itu bisa saja ada yang ambruk. Sejauh ini, para ilmuwan belum dapat memastikan jenis material yang tersimpan di dalam goa itu. ”Lubang ini baru bagi kami para ilmuwan,” ujar Cushing kepada para murid. Dia memperkirakan ukuran lubang itu 190 meter x 160 meter dan kedalamannya 115 meter.

Memburu aliran lava

Riset para murid itu bertujuan memburu pipa lava yang merupakan fenomena vulkanik di Bumi dan Mars. ”Mereka mengembangkan sebuah proyek riset dengan fokus menemukan lokasi ”pipa” lava yang paling lazim di Mars. Apakah fenomena itu paling sering terjadi di puncak, sisi, atau dataran sekitar gunung,” ujar Mitchell, guru mereka. Mereka lalu meneliti sebuah foto utama dan cadangan dari Pavonis Monsvolcano (gunung) di Mars. Gambar itu diambil oleh alat penangkap citra Thermal Emission Imaging System (THEMIS) dari Odyssey, milik NASA yang sedang mengorbit. Foto cadangan yang mereka teliti malah memberikan kejutan: sebuah citra bundar gelap. Citra itu merupakan lubang di Mars yang mengarah kepada adanya goa terkubur di planet itu. Temuan itu akan diperjelas lagi menggunakan kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) pada Mars Reconnaissance Orbiter. Alat itu bisa menampilkan lebih banyak detail guna melihat ke dalam lubang itu. (SPACE.com/INE)

Sumber: kompas

NASA Ingatkan Badai Meteor Terbesar Dekade Ini Terjadi 2011

Satelit-satelit seperti Hubble Space Telescope dan Stasiun Luar Angkasa Internasional menghadapi ancaman badai meteor yang diperkirakan terkuat dalam satu dekade ini. Hubble Space Telescope adalah teleskop luar angkasa yang dibawa ke antariksa oleh pesawat luar angkasa pada April 1990. Teleskop tersebut mengambil nama astronom Amerika Edwin Hubble. Para astronom di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan badai meteor yang bakal terjadi selama tujuh jam tahun depan bisa menghantam satelit di luar angkasa dan merusak peralatan elektronik di dalam satelit tersebut. Para ilmuwan NASA mengatakan badai yang berisi puing-puing komet tersebut akan menghasilkan pemandangan spektakuler bagi orang-orang yang suka melihat bintang di angkasa. NASA mengatakan badai yang melewati orbit bumi di sekitar matahari setiap Oktober datang dari hujan meteor yang disebut Draconids. Nama Draconids diambil karena meteor-meteor tersebut mengalir dari arah peta bintang Draco. Hujan tersebut juga diberi nama Giacobinids karena mengambil nama dari komet yang melempar mereka, Giacobini-Zinner.

Para ilmuwan di NASA mengaku belum tahu seberapa serius dampak dari badai tersebut. Tetapi para operator pesawat-pesawat luar angkasa telah diberitahu agar mengembangkan mekanisme pertahanan diri. NASA pun saat ini sedang mempertimbangkan untuk memindahkan stasiun luar angkasa internasional dan Hubble Space Telescope ke wilayah yang kemungkinan tidak terkena badai. Perjalanan luar angkasa juga bisa dilarang sampai ancaman badai meteor tersebut berakhir. Selain ancaman fisik ketika badai menghantam secara langsung, gelombang medan listrik statik dari badai tersebut bisa membakar peralatan elektronik yang vital. Intensitas badai biasanya rendah tiap tahun, tetapi bisa meningkat secara drastis setiap 13 tahun ketika bumi melewati wilayah terpadat dalam aliran tersebut. Intensitas tertinggi terjadi pada 1933 ketika badai mengeluarkan 54 ribu meteor per jam. Sementara, pada 1946, tercatat 10 ribu meteor. Jumlah meteor terbanyak dalam badai tersebut pada 1998 mencapai ratusan setiap jam. Dr William Cooke dari Meteoroid Environment Office NASA di Alabama mengatakan pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipatif untuk menghindari masalah akibat badai tersebut. Menurut prediksi dari program komputer COoke menyimpulkan ratusan meteor per jam bisa terlihat dari bumi pada 8 Oktober tahun depan. “Sebelumnya, kami tidak mengetahui apa yang terjadi. Kini kami bisa merasa lebih lega,” ujar Cooke. “Kami sudah bekerja sama dengan program-program NASA (lainnya) untuk mengatasi risiko terhadap pesawat luar angkasa.”

Sumber: Tempointeraktif.com

Kacang Terancam Haram di Pesawat

Setelah senjata api, pisau cukur, gunting, dan benda-benda lain, bisa ada lagi satu macam barang yang dilarang dibawa ke dalam pesawat terbang berpenumpang. Benda itu adalah kacang - entah itu kacang goreng atau kacang kulit. Kebijakan itu tengah ditimbang-timbang oleh Departemen Transportasi Amerika Serikat (AS). Alasannya, pemerintah ingin melindungi para penumpang yang alergi dengan penganan berbahan kacang. Padahal, penganan seperti itu jadi layanan favorit maskapai-maskapai penerbangan kepada penumpang saat pesawat mengudara. Namun, kalangan pendukung larangan itu mengingatkan bahwa jumlah penderita alergi kacang di AS kini tidak sedikit, yaitu sekitar 1,8 juta jiwa. Maka, pekan lalu, Departemen Transportasi menerima masukan dari para penderita alergi, pakar medis, pelaku industri makanan dan masyarakat awam. Hasilnya, mereka memaparkan tiga usulan yang bakal membuat muram produsen kacang. Usul pertama, melarang semua layanan makanan berbahan kacang di semua pesawat; melarang pemberian kacang hanya ketika ada permintaan terlebih dahulu dari seorang penumpang yang alergi kacang dan; mewajibkan maskapai menerapkan "zona bebas kacang" di dalam pesawat bila diminta seorang penumpang.

Pemerintah saat ini baru sebatas menampung usulan. "Kami baru meminta komentar mengenai apakah kami harus menerapkan satu dari tiga usul itu," kata jurubicara Departemen Transportasi, Bill Mosely. "Kami bisa saja tidak menerapkan satu pun dari usul-usul itu," lanjut Mosely. Namun, saran itu ditanggapi sinis oleh kalangan petani dan produsen kacang. "Kacang kan penganan yang enak dan itu juga penganan orang Amerika," kata Martin Kanan, kepala eksekutif korporat King Nut, perusahaan asal Ohio yang memasok penganan kacang ke maskapai-maskapai di AS. "Lalu apa berikutnya? Melarang kacang di taman?" lanjut Kanan secara ketus. Menurut penelitian medis di AS, alergi pada kacang bisa mengancam jiwa penderita. Bahkan, dengan hanya mencium aromanya, penderita alergi kacang bisa mengalami gangguan, baik itu gatal, bersin, maupun batuk. Sejaun ini, maskapai Continental, United, US Airways, dan JetBlue, sudah menghentikan pemberian kacang kepada penumpang. Maskapai Delta dan Southwest hanya memberi kacang bila ada permintaan khusus, sedangkan American Airlines tidak menyedia kacang, namun tetap menawarkan penganan yang memiliki kandungan kacang kepada penumpang. (Associated Press)

Sumber: Vivanews.com