
VIVAnews - Etnis
Tibet mengalami evolusi dengan laju paling cepat dalam sejarah manusia. Pasalnya, gen dalam tubuh orang
Tibet cepat mengalami mutasi untuk menyesuaikan diri dengan tempat hidup mereka di ketinggian. Suatu tim ilmuwan dari Beijing Genomics Institute menemukan bahwa etnis
Tibet mengembangkan gen tidak biasa yang membuat mereka bertahan hidup dengan udara tipis di pegunungan
Tibet. "Ini merupakan perubahan genetik tercepat dalam tubuh manusia," kata Rasmus Nielsen, seorang profesor biologi di
University of
California yang menganalisis studi tim ilmuwan
China, seperti dikutip dari laman harian The Telegraph. Menurut para ilmuwan tersebut, etnis
Tibet dan etnis Han China terbagi ke dalam dua populasi terpisah sekitar tiga ribu tahun lalu saat etnis
Tibet pindah ke pegunungan di sekitar
Himalaya. Etnis Tibet dengan cepat mengembangkan kemampuan untuk hidup di ketinggian 13.000 kaki di mana level oksigen 40 persen lebih rendah daripada kawasan setinggi permukaan laut. Pada ketinggian itu, manusia lebih mudah merasa lelah, sering mengalami sakit kepala, melahirkan bayi dengan berat badan rendah dengan tingkat kematian bayi tinggi. Namun, etnis
Tibet sama sekali tidak mengalami persoalan tersebut. Salah satu faktor mengapa etnis
Tibet mampu bertahan adalah mutasi gen bernama EPAS1. Gen tersebut memproduksi zat protein yang penting dalam mendeteksi tingkat oksigen dan berpengaruh pada metabolisme tubuh. Para ilmuwan juga membandingkan gen dari warga sebuah desa di
Tibet yang tinggal di ketinggian 14 ribu kaki dengan warga di
Beijing,
China. Mereka menemukan bahwa varian gen EPAS1 tersebut dimiliki oleh sembilan persen etnis Han China. Sedangkan 87 persen etnis
Tibet memiliki gen tersebut. Sebelum penemuan ini, peristiwa evolusi tercepat yang dialami manusia adalah evolusi masyarakat usia dewasa di Eropa utara sekitar 7.500 tahun lalu. Evolusi tersebut berupa kemampuan tubuh orang dewasa dalam mencerna susu dan mentoleransi laktosa.
Comments :
Post a Comment